Berita Terbaru

12 Destinasi Ciamik di Wakatobi, Permata Laut Banda yang Wajib Kamu Kunjungi


FarronNews - Travel - Emang gak berlebihan jika Kepulauan Wakatobi disebut sebagai permata di Laut Banda. Kawasan yang ditetapkan menjadi taman nasional sejak 1996 ini memang menjadi surga bagi ribuan spesies biota laut sekaligus penyelam yang mengeksplorasinya. Letaknya yang berada di jantung segitiga terumbu karang dunia inilah yang menjadikan Wakatobi sebagaisalah satu tempat menyelam paling indah di dunia.

Tapi, bukan cuma keindahan alam bawah lautnya yang jadi permata dunia, Wakatobi juga mempunyai beragam pesona lain yang tentunya layak banget untuk kamu jamahi. Yuk, kenal lebih jauh kepulauan ini dengan menjelajahinya!

1. Sebagai pembuka perjalananmu di Wakatobi mampirlah ke Pantai Moli’i Sahatu. Tempat 100 mata air tawar tersebar, dan khasiat awet mudanya bisa membuat berdebar


Garis pantai Pulau Wangi-wangi memang menyajikan sejumlah pantai yang super indah. Tapi, salah satu yang unik adalah pantai Moli’i Sahatu. Moli’i Sahatu memiliki arti “seratus mata air”. Pantai Moli’i Sahatu disebut demikian karena tempat ini memang mempunyai ratusan mata air yang tersebar di sekelilingnya. Uniknya, mata air ini terasa tawar meski keluar dari dasar pantai. Konon, airnya dipercaya bisa membuatmu awet muda, lho.
Pantai yang terletak di desa Patuno, Kecamatan Wangi-wangi ini jaraknya kurang lebih 10 km dari pusat kota. Hamparan pasir putihnya tergenapi dengan barisan pohon kelapa yang meneduhkan, plus mata air yang menyegarkan; memang paling asik disusuri dengan jalan kaki.

2. Tak lengkap rasanya ke Wakatobi jika tidak mendatangi Suku Bajo. Merapatlah sejenak untuk berbincang dengan mereka di Kampung Mola dan Sampela

Suku Bajo atau yang dikenal juga dengan sebutan manusia perahu ini adalah wujud sejati dari  “anak-anak laut”: mereka hidup nomaden mengarungi lautan dengan perahunya. Nah, kurang lebih 7 persen dari penduduk Wakatobi adalah suku Bajo ini. Meski kini mereka cenderung menetap di suatu tempat, tapi hidup mereka tetap tak bisa lepas dari laut. Terbukti dengan kampung-kampung mereka yang berupa panggung di bibir laut.
Bercengkeramalah dengan mereka di kampung Mola, Wangi-wangi Selatan, atau di kampung Sampela, sekitar 10 menit dari Pulau Kaledupa. Kamu akan mengenal lebih jauh tentang kearifan lokal serta keistimewaan mereka. Terus, jangan kaget kalau di sana kamu dijamu dengan masakan laut yang segar dan nikmat.

3. Kalau ingin menapaki rekam jejak sejarah Kerajaan Buton wajib hukumnya bagimu meluangkan waktu untuk singgah ke Benteng Liya Togo

Kerajaan Buton pernah jaya menancapkan kukunya di Wakatobi. Itu tercermin dari peninggalan sejarah berupa sejumlah benteng di Wakatobi; salah satunya yaitu benteng keraton Liya Togo yang terletak di Desa Liya Raya, Kecamatan Wangi-wangi Selatan.
Benteng yang bagian terluarnya mencapai luas 30 hektare ini ditetapkan sebagai Cagar Budaya Dunia. Sebagai wujud dari pengaruh Islam, benteng ini mempunyai sebuah masjid tua yang dibangun pada abad ke-16. Yang menarik, benteng ini memiliki 12 gerbang khas Buton atau disebut dengan lawa yang digunakan keluarga kerajaan untuk bercengkerama dengan rakyatnya.

4. Mandi di telaga segar nan alami di tengah kota? Wakatobi punya tempatnya: Goa Kontamale namanya


Kebayang gak rasanya mandi di telaga alami yang letaknya di tengah kota? Gak sampai lima menit dari Lapangan Merdeka Kota Wangi-wangi, tepatnya di Kelurahan Wanci, ada tempat pemandian dari mata air bernama Kontamale. Tempatnya berupa ceruk bebatuan dengan air yang berwarna kebiruan. Mudah kok menemukannya, karena berada di dekat jalan besar.
Air yang jernih kebiruan yang terasa segar, ditambah dengan ceruk karang dan pepohonan rindang yang menaunginya bikin kamu gak tahan untuk segera melompat ke air. Selain Kontamale, ada juga beberapa telaga lain yang serupa tak jauh dari sana, bernama Telaga Goa Teekosapi.

5. Kamu yang menggemari caving jelas gak boleh melewatkan pengalaman menelusuri Goa Dewata di Pulau Kapota. Ornamen indah di dalamnya bisa membuatmu takjub sampai menganga


Pulau Kapota berada kurang lebih 3 km dari Pulau Wangi-wangi yang bisa kamu tempuh selama 20 menit menggunakan perahu. Pulau ini menyimpan beberapa potensi wisata yang menarik, seperti beberapa pantai, danau, serta Goa Dewata. Nah, kalau kamu suka menelusur ke perut bumi, Goa Dewata ini wajib kamu jamahi. Selain pemandangan ornamen goa yang indah, di dalamnya juga terdapat danau yang konon pernah digunakan raja-raja untuk membersihkan diri.
Oh iya, gak jauh dari goa ini ada pohon kelapa yang unik, lho. Kalau pohon kelapa umumnya batangnya gak bercabang, pohon kelapa yang satu ini batangnya bercabang, bahkan sampai bercabang empat! Jadi, jangan lewatkan mendatangi pohon unik ini, ya.

6. Pulau Kaledupa tak cuma punya alam yang mempesona. Di sini kamu bisa menikmati Tari Lariangi yang dibawakan langsung oleh gadis-gadisnya


Pulau Kaledupa, salah satu pulau utama Wakatobi ini, memang menawan. Selain menyajikan panorama yang memukau, kamu juga akan menemukan pesona budaya di tempat ini. Salah satunya adalah Tari Lariangi.
Tarian tradisional khas Kaledupa ini dulunya adalah tarian persembahan yang ditampilkan di istana raja.  Kini, tarian ini ditambilkan ke berbagai kalangan dan udah menjadi salah satu daya tarik wisatawan. Tak cuma menari, para penampil juga akan menyanyi demi menghibur para pengunjung, lho!

7. Dakilah Bukit Kahyangan di Pulau Tomia. Tempatmu bisa menikmati garis cakrawala yang seakan tak ada putusnya


Sesekali, pasti seru menyendiri sambil memandang garis cakrawala yang tak ada putusnya. Jika kamu sampai di Pulau Tomia, naiklah ke Bukit Kahyangan. Dari atas sana, pemandangan elok Pulau Tomia bikin kamu enggan beranjak; tampak juga Laut Banda dan pulau Kaledupa di kejauhan. Bila langit cerah, matahari terbenam di tempat ini gak akan bisa kamu lupakan seumur hidupmu.

8. Wakatobi adalah surga bukan cuma bagi manusia. Pulau Anano dan Runduma yang tak berpenghuni jadi saksi tukik-tukik penyu memulai kehidupan baru di laut lepas


Kalau kamu tertarik dengan penyu, datanglah ke Pulau Runduma di Kecamatan Tomia. Kesadaran penduduk Runduma terhadap populasi penyu sangatlah tinggi. Anak kecil di sana aja tahu bahwa mengambil telur penyu adalah tindakan buruk yang mengancam ekosistem.
Makanya, di Pulau Runduma serta Anano yang tak berpenghuni, penyu-penyu langka ini bisa bertelur dengan leluasa. Kalau beruntung, kamu bisa menyaksikan penyu bertelur di malam purnama, atau tukik-tukik yang berjuang melawan ombak untuk kembali ke laut. Suatu hari, mereka akan kembali ke pulau tempat kelahiran mereka.

9. Melompat sedikit ke Pulau Binongko, susuri keindahan Pantai Pasir Panjang dengan berjalan kaki. Nikmati surga dunia yang tak terbantahkan lagi


Sesuai namanya, pasir putih menghampar seolah tak putus-puts di pantai Pasir Panjang. Pantai ini memang memiliki garis pantai terpanjang di Pulau Binongko dan sekitarnya. Deretan rapi pohon kelapa menambah indah pemandangan di sepanjang pantai. Kegiatan yang wajib kamu lakukan di sini: menyusuri pantai dari ujung ke ujung sambil menikmati langit biru dan angin laut yang bertiup.

10. Sambung langkahmu dengan menyambangi magisnya hutan mangrove keramat yang seolah membawamu ke dunia lain


Tak jauh dari Pantai Pasir Panjang, ada sebuah hutan mangrove yang dijadikan hutan adat dan dikeramatkan warga setempat. Binongko memang punya beberapa hutan bakau yang dikeramatkan. Tapi, mendengar kata “dikeramatkan”, jangan mikir yang mistis-mistis dulu, karena maksudnya tentu baik, yaitu menjaga agar tempat ini tetap lestari. Tentu aja kamu boleh menjelajahi hutan ini untuk menemukan keelokan Pulau Binongko dari sisi yang lain.

11. Jangan lewatkan juga kesempatan langka mengunjungi industri pandai besi Binongko, sang pembuat parang Pattimura


Penasaran dari mana parang milik Pattimura yang ada di uang pecahan seribuan itu berasal? Para pandai besi Binungkolah yang membuatnya. Kemampuan para pandai besi ini memang tak diragukan lagi—begitu tersohornya sampai-sampai Kepulauan Wakatobi disebut juga Kepulauan Tukang Besi. Parang dan perkakas besi yang mereka hasilkan terkenal kuat, tajam, dan tahan karat.
Kamu bisa melihat sendiri proses pembuatan berbagai perkakas logam di tempat ini. Semuanya masih dilakukan secara tradisional, lho. Sayangnya, jumlah pandai besi ini makin lama semakin sedikit karena tergerus zaman. Padahal, mereka berperan penting bagi sejarah.

12. Jangan berani-berani pulang sebelum lidahmu bertemu dengan si Kasoami, kuliner khas Wakatobi.


Sedikit berbeda dengan kamu yang biasa makan nasi, penduduk Wakatobi terbiasa menyantap kasoami sebagai makanan pokok sehari-hari. Kasoami ini berbentuk kerucut seperti tumpeng mini, hanya saja ia terbuat dari ubi yang dikeringkan. Makanan ini tergolong awet, bisa tahan berhari-hari, sehingga biasa dijadikan bekal melaut. Kasoami paling enak disantap dengan lauk ikan maupun bulu babi. Nyam!
Nah, itu dia sebagian pesona Kepulauan Wakatobi yang bisa kamu sambangi. Gak cuma bawah lautnya aja, ‘kan yang keren? Oh iya, kalau kamu punya rekomendasi tempat wisata lainnya di Wakatobi,

Tidak ada komentar